Sponsors Link

Mikrosefalus : Gejala – Penyebab – Dampak – Pengatasan

Sponsors Link

Kepala menjadi salah satu organ penting bagi tubuh yang terdiri dari berbagai bagian bagian kepala dengan fungsi yang berbeda beda. Pada kepala terdapat beberapa bagian penting seperti mata sebagai indera penglihatan, hidung sebagai indera penciuman dan awal masuknya saluran pernafasan, mulut tempat indera pengecap lidah berada dan awal masuknya sistem pencernaan manusia, kuping sebagai indera pendengaran, dan yang utama adalah otak yang terdapat di dalam tengkorak kepala sebagai pusat kendali dan saraf manusia.

ads

Pentingnya kepala bagi kondisi kesehatan manusia dan segala bentuk aktivitasnya menjadikan setiap orang perlu menjaga kondisi kepalanya. Gangguan atau permasalahan pada kepala yang paling ringan saja seperti sakit kepala atau pusing sudah dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi yang menyakitkan bahkan sulit untuk berkonsultasi, berfikir, dan lebih banyak membutuhkan waktu istirahat apalagi ketika jenis sakit kepala yang terjadi merupakan permasalahan yang lebih besar.

Menjaga kondisi kepala dan perkembangannya perlu diperhatikan sejak dini terutama bagi orang tua terhadap bayinya karena perkembangan kepala dan otak manusia 2 tahun awal kehidupannya sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup ketika dewasa. Pada usia tersebut juga ada beberapa permasalahan yang dapat terjadi dan salah satu hal tersebut disebut sebagai mikrosefalus. Berikut penjelasan mengenai mikrosefalus yang merupakan kebalikan dari kondisi hidrosefalus dalam ulasan dibawah ini.

Hal pertama yang akan dijelaskan mengenai mikrosefalus adalah penjelasan terkait pengertiannya agar lebih mudah paham dengan ulasan berikutnya. Menurut pemaparan yang ditulis pada kolom wikipedia, mikrosefalus merupakan kelainan otak dengan ukuran kepala lebih kecil dari ukuran kepala rata-rata berdasarkan umur dan jenis kelaminnya. Kondisi mikrosefalus ini terlihat menjadi kebalikan dari kondisi hidrosefalus dimana kepala bayi akan memiliki ukuran yang lebih besar dari ukuran normalnya.

mikrosefalusMikrosefalus merupakan kondisi kelainan langka dimana dapat terjadi dan diketahui pada saat awal bayi lahir atau baru di satu tahun pertama kehidupannya. Bayi dengan kondisi mikrosefalus tentu memiliki perbedaan yang mencolok dengan ukuran kepalanya lebih kecil dari ukuran kepala normal dan akan diketahui ketika pengukuran lingkar kepala sama seperti kondisi hidrosefalus.

Beberapa kasus langka mikrosefalus dapat dengan mudah diketahui sejah bayi dalam kandungan maupun ketika bayi terlahir dimana ukuran lingkar kepala bayi kecil dari seharusnya. Namun ada juga kasus dimana mikrosefalus baru diketahui ketika bayi memiliki usia yang lebih. Selain ukuran kepala yang kecil, kondisi mikrosefalus pada bayi juga disertai dengan gejala klinis diantaranya seperti :

  1. Bayi yang sering rewel dan menangis karena kondisi kepala yang tidak nyaman.
  2. Gangguan pada setiap fungsi otak normal seperti berbicara, berjalan, penglihatan, pendengaran, dan keseimbangan karena ukuran otak yang mengecil.
  3. Terlambatnya kemampuan motorik bayi untuk belajar berjalan, merangkak, berbicara, dan duduk.
  4. Panjang badan yang lebih rendah dari normalnya serta kondisi kesulitan untuk menelan makanan.
  5. Bayi yang hiperaktif atau sulit untuk fokus dan sulit untuk diam serta memiliki keingingan untuk selalu bergerak aktif.

Kondisi mikrosefalus terjadi akibat perkembangan otak bayi yang tidak normal dan berukuran kecil. Penyebab yang dapat menjadikan kondisi mikrosefalus tersebut seperti cedera kepala pada bayi ketika berada di dalam kandungan maupun setelah lahir, infeksi yang terjadi pada ibu hamil khusunya HIV, toksoplasma, rubella, hingga zika, kelainan genetik, malnutrisi, terpapar zat berbahaya, serta kondisi feniketonuria yang tidak segera diatasi. Kondisi mikrosefalus tersebut dapat memberikan dampak yang bersar terhadap perkembangan bayi diantaranya seperti :

  1. Terlambatnya kemampuan motorik bayi, bayi yang memiliki perkembangan otak lambat serta cenderung menjadi kecil pada kondisi mikrosefalus maka akan memiliki kemampuan motorik yang juga terhambat. Kemampuan motorik adalah kemampuan bayi untuk mengerakan seluruh anggota tubuhnya sesuai keinginannya.
    Sponsors Link

  2. Kemampuan sensorik yang berkembang lambat, selain kemampuan motorik pada bayi yang akan terdampak dengan adanya kondisi mikrosefalus, kelainan sensoriknya pun juga akan mengalami dampak yang besar terhadap perkembagannya. Kemampuan sensorik itu seperti kemampuan melihat, mendengar, bicara, mencium, membau, merasakan, menyentuh, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sensorik saraf.
  3. Kemampuan kognitif yang terhambat, kecerdasan pada bayi mikorsefalus tentu juga akan rendah dibandingkan dengan bayi dalam kondisi normal. Kemampuan tersebut terhambat karena perkembangan otak yang tidak normal. Selain itu, kondisi fisik bayi mikorsefalus juga akan mengalami perlambatan perkembangan.

Sejauh ini dalam dunia kedokteran belum ditemukan pengobatan yang dapat mengembalikan ukuran kepada penderita mikrosefalus pada kondisi normalnya sehingga ia akan hidup dengna kepala yang kecil hingga dewasa. Langkah penanganan yang dilakukan hanya bertujuan untuk membantu perkembangan fisik maupun kemampuan bayi lainya. Beberapa bentuk penanganan tersebut diantaranya melalui terapi berbicara dimana bayi dilatih untuk mampu memiliki kemampuan berbicara, terapi fisik untuk melatih kemampuan motorik bayi, dan pemberian obat obatan untuk mencegah kondisi kejang dan hiperaktif, serta meningkatkan fungsi saraf dan otak.

Itulah beberapa penjelasan mengenai kondisi mikrosefalus yang merupakan keadaan langka pada bayi dimana ukuran kepalanya lebih kecil dari kondisi normal. Mikrosefalus tidak dapat diatasi namun dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan tangan pada ibu hamil maupun kebersihan bayi setelah lahir, mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin guna menghindari terjadinya malnutrisi pada ibu hamil, menjauhkan diri dari zat kimia berbahaya selama hamil, lindungi dari gigitan nyamuk menggunakan lotion anti nyamuk, dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol maupun NAPZA dan rokok selama menjalani kehamilan.

, , ,



Oleh :
Kategori : Kesehatan