Sponsors Link

Penyebab Muntah Setelah Kepala Terbentur Dan Cara Mengatasinya

Sponsors Link

Kepala menjadi salah satu bagian dari tubuh yang sangat penting untuk dijaga agar tidak mengalami berbagai macam permasalahan yang dampaknya cukup signifikan bagi tubuh. Permasalahan pada kepala tentu dapat menyebabkan bagian bagian kepala yang terdiri dari berbagai macam organ penting menjadi terganggu fungsinya bahkan jika kondisi permasalahan yang terjadi cukup serius dapat menyebabkan kerusakan yang permanen dan tentunya berbahaya bagi kesehatan secara menyeluruh.

ads

Salah satu bagian penting yang terdapat di kepala dan harus dilindungi dengan baik adalah otak sebagai pusat kendali tubuh dan kendali saraf serta merupakan tempat dimana kecerdasan manusia terbentuk. Sebagai bagian tubuh yang sangat penting otak pada kepala dilindungi tulang tengkorak yang menghindarkannya dari bahaya cedera pada otak akibat benturan benda. Meskipun dapat menahan benturan, fungsi tulang tengkorak tetap memiliki batasan terkait kemampuannya dalam melindungi otak tersebut.

Adanya batasan kemampuan tengkorak dalam melindungi kepala tersebut menjadikan setiap kondisi benturan di kepala perlu diperhatikan apakah ada tanda atau gejala berbahaya yang dapat terjadi. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan terkait benturan tersebut adalah ketika muncul keadaan muntah setelah kepala terbentur. Untuk memahami lebih jauh, Berikut ini penjelasan mengenai penyebab munculnya kondisi muntah saat kepala terbentur dan hal terkait lainnya yang perlu diperhatikan dan dipahami dengan baik dalam penjelasan di bawah ini.

  • Tekanan pada tempurung

Muntah menjadi salah satu tanda atau gejala terjadiya kondisi tekanan tinggi pada tempurung akibat benturan. Kepala yang terbentur dapat mengalami pendarahan di dalam tempurung. Adanya darah dalam otak dapat memberikan tekanan kepada otak secara langsung meningingat tempurung tidak dapat melebar. Kondisi penekanan pada kepala tersebut merupakan keadaan yang berbahaya karena dapat mejadikan otak tergelincir dari posisinya dan menekan sistem pusat pernafasan dan pengaturan jantung di batang otak yang jika keadaan ini terjadi dapat beresiko menyebabkan kematian. Selain muntah, ada beberapa gejala lain yang dapat muncul sebagai tanda otak tertekan diantaranya seperti kejang, penurunan kesadaran, kelumpuhan, dan sakit kepala hebat. 

  • Gegar Otak

Gegar otak merupakan salah satu jenis cedera atau trauma kepala yang dapat terjadi karena adanya benturan yang cuku kuat dari luar kepala. Gegar otak menjadi salah satu jenis cedera kepala yang juga disertai dengan adanya kerusakan pada otak. Kondisi gegar otak akan menyebabkan sesorang kehilangan beberapa bagian kemampuan kepala termasuk akan menjadi lupa dalam beberapa hal di memorinya. Selain muntah, mereka yang mengalami gegar otak akan pingsan beberapa saat yang ketika sadar akan merasakan pusing dan muntah muntah serta terkadang disertai dengan beberapa kondisi lain seperti vertigo dan amnesia retrogade.

  • Trauma kepala ringan

Setiap kondisi benturan yang langsung terjadi pada kepala tentu dapat menyebabkan trauma kepala ringan sebagai penyebab munculnya kondisi muntah setelah kepala terbentur. Trauma kepala tingan menjadi salah satu kondisi yang tidak berbahaya dan lebih sering dapat sembuh dengan sendirinya. Trauma kepala ringan akan menimbulkan beberapa gejala yang singkat dan tidak berbahaya bagi kondisi kesehatan kepala. Trauma kepala ringan biasanya juga akan terjadi ketika memang benturan yang dirasakan tidak terlalu keras namun dengan frekuesnsi yang terlalu sering.

Itulah beberapa penyebab munculnya kondisi muntah setelah kepala terbentur yang perlu diawasi dan diperhatikan dengan baik. Ketika terjadi benturan memang ada beberapa hal yang sebaiknya membutuhkan perhatian lebih dan perlu dibawa segera untuk mendapatkan pertolongan medis ketika ada keadaan dimana seseorang setelah terbentur mengalami muntah, mimisan, keluarnya darah dari kepala, hilang kesadaran, kelumpuhan, sakit kepala yang hebat, hilangnya ingatan dan kesulitan diajak berkomunikasi. 

Keadaan tersebut harus dipastikan apakan kondisi muntah yang terjadi merupakan hal yang wajar atau ada penyebab berbahaya dibaliknya. Berikut ini beberapa proses penanganan muntah setelah kepala terbentur yang perlu diperhatikan dengan baik agar tidak menyebabkan kondisi yang lebih bahaya terhadap otak sebagai pusat kendali tubuh di kepala maupun terhadap kesehatan secara keseluruhan. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi muntah dan langkah preventif selanjutnya.

  • Menstabilkan tubuh

Untuk mengatasi kondisi muntah sesaat setelah mengalami benturan perlu dilakukan penstabilan tubuh mereka yang terbentur. Sebelum memberikan tindakan apapun, penstabilan tubuh dapat membantu memberikan waktu kepada tubuh untuk mengatasi kondisi yang ada. Menstabilkan tubuh tersebut meliputi memposisikan penderita dengan benar, memastikan kebutuhan hidupnya terjamin seperti nafas maupun air, 

  • Berkonsultasi dengan dokter

Langkah yang paling tepat dalam mengatasi muntah adalah dengan mengkonsultasikan kondisnya tersebut dengan dokter. Dokter akan lebih mudah menentukan diagnosisi medis terkait penyebab muntah setelah mengalami benturan keras. Dokter juga akan menentukan hasil diagnosis serta tindakan medis yang akan dilakukan dalam mengatasi muntah tersebut. Bentuk tindakan medis sangat tergantung dari tingkat keparahan kondisi muntah dan benturan yang terjadi. 

  • Memberikan upaya mandiri mengatasi muntah

Langkah terakhir yang perlu dilakukan dalam mengatasi kondisi muntah setelah mendapatkan benturan pada kepala yang cukup luas adalah dengna beristirahat ataupun menggunakan obat antimuntah mungkin hanya dapat mengatasi kondisi muntah sesaat.

Itulah beberapa penjelasan mengenai muntah setelah kepala terbentur yang perlu diperhatikan dan dimanfaatkan dengan benar. Kondisi muntha setelah kepala terbentur dapat menjadi pertanda awal bahwa ada keadaan yang berbahaya terjadi akibat efek dari benturan pada kepala. Menghindari benturan yang tidak diperlukan dapat menjaga kesehatan kepala tetap berlangsung dengan baik.

, , ,